Sabtu, 13 Agustus 2011

SBY BISA DISERET KE MAHKAMAH INTERNASIONAL: "Menggunakan Operasi Intelijen untuk Berpolitik"

Ribut-ribut teroris, kekerasan agama, dan penggelaran bom secara kolosal yang terjadi akhir-akhir ini hanya memperkuat sinyalemen bahwa SBY benar-benar telah menyalah-gunakan kekuasaan seperti dibeberkan oleh The Age dan The Sydney Morning Herald. Jika Suharto masih menerapkan operasi intelijen (militer) di samping strategi politiknya, tetapi SBY menerapkan operasi intelijen sebagai strategi politiknya.

Sinyal bahwa SBY menggunakan operasi intelijen untuk mendapatkan kekuasaan justru keluar dari mulutnya sendiri. Ia mengatakan bahwa keberhasilannya dalam PEMILU dan PILPRES 2009/2010 adalah berkat diterapkannya operasi senyap atau revolusi senyap (Quiet Revolution).

Kebodohan SBY adalah ia tidak tahu bahwa perbuatan ini sebenarnya merupakan bentuk pelanggaran berat atas Hukum Kemanusiaan Internasional (International Humanitarian Law) yang diakui semua bangsa, yakni penggunaan operasi intelijen yang melanggar kesucian manusia. Operasi senyap itu menurut kabel diplomatik Kedutaan Besar Amerika, seperti yang dikutip Wikileaks, masih berjalan dengan menguntit tokoh-tokoh politik kunci di Indonesia.

Operasi senyap yang dikomandoi SBY memiliki beberapa tim dengan nama sandi, seperti operasi intelijen militer, yakni Tim Echo, Tim Delta, Tim Bravo, Tim Foxtrot, Tim India, Tim Romeo, dan Tim Sekoci. Sukses yang diraih tim-tim ini disebabkan keterlibatan para petinggi militer seperti Marsekal TNI (Purn) Djoko Suyanto (Tim Echo), Irvan Edison (Tim Sekoci), Mayjen TNI (Purn) Abikusno (Tim Delta), Mayjen TNI Sardan Marbun (Tim Romeo), dan banyak lagi mantan perwira tinggi militer.

Celakanya apa yang dilakukan oleh SBY ini sama dengan langkah-langkah aktif operasi intelijen perang yang dilakukan oleh aparat intelijen Soviet di masa lalu (Cheka, OGPU, NKVD, dan KGB), khususnya untuk mempengaruhi dan menciptakan jalannya peristiwa-peristiwa politik publik. Seolah tanpa disadari, semua berjalan begitu saja dengan diselimuti istilah-istilah baru seperti pemasaran sosial atau pemasaran politik (politic and social marketing), pewarnaan informasi publik terus dilakukan pihak SBY.

Karena itu tatkala upaya untuk mengendalikan informasi publik di media massa ini gagal walau telah diguyur dengan iklan-iklan pemerintah, Sekretaris Kabinet Dipo Alam mencak-mencak membabi buta. Sebagai satu operasi intelijen, yang dilakukan bisa berupa disinformasi, propaganda, kebohongan publik, pemalsuan dokumen; serta bisa saja diperluas dengan peristiwa pembunuhan, penetrasi, dan kekerasan.

Mudah-mudahan melalui tulisan ini akan terjawab berbagai kejanggalan peristiwa-peristiwa sosial akhir-akhir ini seperti peristiwa teror yang muncul setiap gunjingan negatif terhadap SBY terangkat. Operasi intelijen seperti ini ada batasnya, karena selalu memiliki titik lemah yang akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.

Saksi seorang anak bangsa: "INILAH JAMAN JAHILIYAH, INILAH JAMAN SODOM DAN GOMORRAH"

Saudara-saudara,
Kemarin sore kita telah mendengarkan suara Nazaruddin dari tempat pelariannya. Pengakuan Nazaruddin yang disiarkan oleh Metro TV itu benar-benar membuat darah kita terkesiap. Bulu kuduk kita merinding, dan pada saat itu pula sendi-sendi kaki kita melemah ,lunglai.
Apa yang ditunggu-tunggu dari Nazaruddin, yang selama ini dituduh sebagai penyuap dan selama ini pula di "kuyo-kuyo", datang sudah. Bisul itu pecah sudah, penuh nanah, berbau busuk yang benar-benar menusuk. Kalau apa yang ia katakan benar, maka inilah kiamat kecil bagi negeri ini.
Betapa mirisnya kita dengar anak-anak muda yang telah nekad dan berani melakukan korupsi triliunan rupiah. Betapa beraninya mereka mengumbar suap dan melakukan persekongkolan jahat demi kekuasaan. Mereka telah pula berani menginjak sendi-sendi hukum dan konsitusi negara bak kesetanan.
Negeri yang dengan susah payah didirikan dengan peluh, darah, dan air mata; hanya dalam tujuh tahun SBY berkuasa; harapan tentang negeri yang "gemah ripah loh jinawi" sirna dalam sekejap. Ini bukanlah sebuah negara, inilah komunitas masyarakat purba, yang hidup tanpa aturan, etika , dan norma-norma. Inilah yang disebut sebagai pertarungan bebas "survival of the fittest", kata Darwin.
Kita seolah-olah tidak pernah hidup dalam peradaban yang tinggi pada masa lalu. Karena apa yang kita lihat saat ini tidak lebih dari komunitas manusia-manusia pada awal evolusi, yakni komunitas sub-human, mahluk yang berada di bawah derajat manusia. Kita kini berada dalam proses dehumanisasi yang mengerikan. Kita bukan melakukan "character building atau "nation building", kita melakukan demoralisasi dan degradasi terhadap karakter bangsa kita.
Seolah tidak ada lagi agama, tidak ada lagi etika dan tata-krama, tidak ada hukum dan konsitusi, tidak ada panutan dan keteladanan. Kemanakah para Kiyai, para guru, para penegak hukum, dan para pemimpin "sing ngarso ing tulodo". Saya kira mereka telah berkerja keras dan merasa menjalankan fitrahnya. Tetapi astaga-naga, bukti-bukti, fakta-fakta, dan kenyataan menunjukkan hal-hal sebaliknya yang justru bertentangan dengan harapan mereka.
Kalau orang jujur sudah dikejar-kejar, diusir, dan disakiti; maka saya katakan inilah sebenarnya masyarakat jahiliyah yang dihadapi para rasul dan nabi. Kalau kebenaran diingkari, keahlian dipecundangi, kebaikan dikhianati, dan keadilan bisa dibeli; katakanlah bahwa sendi-sendi masyarakat kita telah mati-suri. Ini artinya hanya satu langkah lagi saudara-saudara, mungkin juga satu jengkal saja saudara-saudara, kita akan berada dalam suatu situasi chaos dan anarkhi.
Negeri ini terus membusuk dan ketata-negaraannya makin terpuruk, bahkan sejak Orde Baru sampai Rejim Reformasi berkuasa saat ini. Demokrasi adalah hasil transaksi dan jual-beli. Pemimpin terpilih karena mengelabuhi dan membayar pada pemilihnya. Apakah itu anggota DPR, anggota DPRD, Gubernur, Bupati, bahkan presiden.
Kecurangan dalam Pemilu dengan gamblang dipaparkan di hadapan kita, dengan memalsukan daftar pemilih tetap, dengan memanipulasi sistem teknologi informasi, dengan merencanakan nama-nama yang akan dimenangkan, dengan memalsukan surat-surat pengesahan, curi-mencuri suara, serta jual-beli suara di lapangan. Saudara-saudara kalau begitu pemimpin kita sebenarnya bukanlah pemimpin, mereka adalah orang-orang dagang, mereka tak lebih dari pialang-pialang kekuasaan.
Saudara-saudara, kalau begitu apa yang diharapkan dari mereka? Mereka sudah tidak perlu bekerja untuk kita, mewakili kepentingan kita, apalagi setiap kali kita hujat dan kita gugat. Mereka sudah merasa kekuasaan dan jabatan milik mereka sendiri, karena mereka mendapatkannya secara tidak gratis dan dukungan dari masyarakat sudah mereka beli secara kontan.
Inilah awal dari kehancuran sistem politik demokrasi kita, inilah produk dari demokrasi transaksi itu, yang sifatnya kasih uang habis perkara. Mereka tidak merasa ada urusan lagi dengan rakyat, semua hak-hak warga negara telah mereka berangus dan bungkus, karena mereka telah lunas membelinya. Dari sinilah malapetaka itu hadir, para pemimpin tak ubahnya para bandit yang bisa berbuat tanpa kontrol dan kendali rakyat.
Bandit-bandit itu merampok APBN atau uang rakyat, tanpa ijin, tanpa bisa diawasi, besarnya sesuka mereka, siapapun yang mecoba menghadang akan mereka suap atau mereka singkirkan. Mereka merampok dengan terang-terangan, mengatur sejak dalam rencana, menentukan berapa besar anggarannya, dan mengatur bagaimana mereka dapat memenangkan lelangnya. Dengan cara inilah korupsi terjadi dan berhasil dengan menyuap semua pihak yang terlibat dari kalangan birokrasi.
Setelah para bandit itu berhasil merampok APBN melalui korupsi, berhasil menimbun uang dan harta mereka, mereka akan meneguhkan kekuasaan dan jabatan mereka. Oleh karenanya saudara-saudara, terjadilah siklus yang terus berulang. Saya katakan siklus itu adalah siklus atau daur setan, yakni uang-kekuasaan-uang-kekuasaan. Siapa-siapa yang punya uang akan mudah mendapatkan kekuasaan dan sebaliknya siapa-siapa punya kekuasaan akan terus mencari uang untuk melanjutkannya.
Itulah saudara-saudara yang disebut gejala plutokrasi. Pemerintahan yang diatur oleh uang, oleh komplotan atau konspirasi orang-orang berduit. Kevin Phillips, seorang penulis dan ahli strategi politik Amerika, mengatakan satu pemerintahan yang telah ditegakkan oleh ramuan antara uang dan kekuasaan. Mau menjadi pemimpin harus menggunakan uang untuk membayar pemilih, mau jadi deputi gubernur Bank Indonesia harus menyuap anggota DPR, mau menjadi atau menjatuhkan Ketua Umum parpol harus pakai uang, mau memenangkan perkara bayar polisi hakim, jaksa, dan hakim untuk menang, mau naik pangkat harus menyogok dengan uang.
Sudah seperti inikah wajah negeri kita. Sampai kapan ini akan terus berlangsung? Sanggupkah rakyat dan orang-orang kritis melawan para plutokratis yaitu orang-orang yang bercokol di puncak kekuasaan yang mengatur kekuasaannya dengan uang. Yang mendikte kebenaran dengan uang dan yang menjajah martabat dan derajat kemanusiaan kita dengan uang.
Tanpa sadar sebagian masyarakat telah menjadi antek-antek uang, tanpa sadar pula sebagian golongan itu telah menjadi budak-budak mereka. Mereka inilah yang seluruh naluri, hati, dan akal sehat mereka telah mereka kendalikan dengan uang sebagai instrumennya. Mereka seperti robot-robot yang tenaga listriknya adalah uang dari para bandit, para koruptor, para perampok uang rakyat dan APBN.
Mari saudara-saudara kita bangkit bersama, kita masih menyimpan kekuatan yang maha dahsyat unutk melawan kekuatan uang mereka. Kita masih punya kekuatan kemanusiaan atau human capital, kita punya akal dan kecerdasan, punya kekuatan kreatif untuk menciptakan gagasan perlawanan atas penindasan terhadap hak-hak kita, juga kekuatan jiwa dan raga yang teguh dan kuat. James S Coleman katakan human capital itu adalah dasar dan bisa kita gubah menjadi kekuatan sosial atau social capital yakni solidaritas bersama, kekuatan masif rakyat, organisasi front kolektif, kepemimpinan, yang kita ujudkan dalam bentuk senjata bagi kaum tertindas dan lemah, yakni kekuatan rakyat atau people power. Itulah modal dasar revolusi kita.

Selasa, 09 Agustus 2011

REVOLUSI ADALAH CARA BIJAK MENGUBAH KEADAAN

Sampai hari ini, masih saja ada orang2 yang takut2 dengan revolusi. Saudara-saudara, mereka sesungguhnya adalah juga orang2 yang tidak mensyukuri revolusi, sebagai satu nikmat dan rahmat Tuhan. Mereka adalah yang tidak ingat, tidak tahu, atau tidak mau tahu bahwa negara2 yang makmur, negara2 yang moderen, negara2 yang tertata saat ini adalah negara2 yang lahir dari rahim revolusi. Kenapa? Karena merupakan buah dari gerakan massal dan kolosal rakyat yang ingin menentukan nasibnya sendiri, membuat konstitusi sendiri, dan mendisain sistem demokrasinya sendiri.

Mengapa harus sendiri? Karena dengan membidani dan menangani sendiri segala sistem yang akan dipakai, maka sistem itu akan memihak kepada dirinya, kepada kepentingannya, dan kepada cita2 yang benar2 diharapkan oleh rakyat. Inilah inti dari semangat negara dari, oleh, dan untuk rakyat. Rakyat sudah tidak sudi jika para penindas dan penjajah itu setiap kali mengklaim mendapat mandat dari rakyat, tetapi kebijakan2nya justru anti terhadap rakyat. Setiap kali di negara2 korup para penguasa berpidato bahwa program2nya dibuat demi kepentingan rakyat, tetapi saya hakul yakin bahwa itu semua hanya akan melanggengkan kepentingan dari para penindas sendiri.

Dari sinilah gagasan2 bahwa perubahan harus bersifat merakyat dan populer berangkat dan berawal. Perubahan yang diwujudkan tanpa partisipasi rakyat dan bersumber dari kekuatan rakyat, maka perubahan itu sebenarnya hanya hadiah dari penguasa atau pihak ketiga. Tentu perubahan itu bukanlah yang diimpikan oleh rakyat dan meragukan apakah perubahan itu dapat menjawab tuntutan rakyat. Itulah yang kita keluhkan saat ini bahwa reformasi tahun 1997/1998 yang pernah kita lakukan adalah reformasi tanpa perubahan apa2, malahan yang terjadi adalah deformasi dan bangkitnya musuh2 lama kita kembali.

Menjebol sistem lama dan rejim lama dari akar2nya dan membangun sistem baru dan rejim baru dengan landasan baru, itulah yang disebut revolusi. Karena menjebol adalah tindakan yang relatif singkat dan relatif cepat, maka perubahan yang cepat juga merupakan salah satu ciri dari revolusi itu sendiri. Perubahan dari akar2nya harus dilakukan ketika semua sistem sudah tidak lagi menguntungkan rakyat, karena sistem yang ada sedikit demi sedikit telah dimanipulasi dan telah diplintir untuk kepentingan para penguasa.

Oleh karena itu, revolusi harus mengorganisir rakyat banyak, harus memfasilitasi rakyat bergerak beramai2, dan harus berbondong2; sehingga revolusi benar2 merupakan manifestasi daya dan upaya rakyat sendiri. Revolusi bukan rekayasa para elit yang akhirnya perubahan hanya menjadi permainan dari kepentingan elit sendiri. Dengan bersama2, berramai2, dan berbondong2, itu berarti juga kita mengumpulkan kekuatan rakyat, bergotong-royong, dan bersinergi.

Itulah kekuatan sejati yang dimiliki rakyat, dan dengan kekuatan akumulatif itu, rakyat tidak dilihat sebelah mata, tidak dipandang remeh oleh penguasa2 yang keras kepala, dan kita bisa menunjukkan bahwa rakyat serius dan tidak main2. Itu berarti juga rakyat sudah siap menanggung segala resiko , jika lawan tidak mundur dan terus bercokol di singhasananya. Mengapa, karena perubahan yang total, perubahan yang fundamental, dan menjamin harapan2 utuh rakyat mensyaratkan rejim lama mundur atau dimundurkan.

Tapi saudara-saudara, dalam sejarah politik, dalam sejarah kekuasaan para tiran, dan tradisi dari penguasa2 yang arogan; penguasa2 itu tidak mungkin legowo dan ikhlas begitu saja meninggalkan kursi kekuasaannya. Penguasa itu pasti dan hampir pasti ingin menguji apakah tuntutan rakyat serius. Mereka pasti akan menyelidiki terlebih dahulu apakah gerakan perubahan ini benar2 mewakili kepentingan rakyat. Bahkan mereka akan mencoba2 melakukan kekerasan untuk melihat sejauh mana daya-rekat dan kesetiakawanan dalam barisan rakyat itu.

Celakanya saudara-saudara, celakanya para begundal di belakang penguasa tertinggi itu selalu membisiki dan menggombali pemimpinnya serta mengatakan bahwa yang bergerak hanya segelintir orang. Lebih celaka lagi para begundal itu juga mengatakan bahwa rakyat sebenarnya terprovokasi oleh para provokator. Mereka juga terus memanas-manasi penguasa yang sudah berada di ujung tanduk itu bahwa popularitasnya tetap tinggi dan juga masih banyak rakyat yang setia kepada sang penguasa.

Inilah pangkal masalahnya, inilah pokok persoalannya, dan inilah sebab-musabab; mengapa revolusi yang suci dan damai itu terkadang berlangsung tidak sesuai harapan. Apalagi jika penguasa mulai mengerahkan polisi, preman2 asuhannya, intel2, dan tentara untuk melakukan aksi kekerasan terhadap gerakan revolusioner rakyat. Kekerasan akan berlangsung lama dan akan jatuh korban, jika angkatan bersenjata yang dibiayai dari uang rakyat itu mulai menembak dan membunuh putera2 bangsa yang terbaik.

Jadi saudara-saudara sudah jelaslah adanya bahwa darah akan mengalir jika kekuatan rakyat dihadapkan dengan kekuatan yang tidak seimbang yakni kekuatan senjata. Korban juga akan jatuh jika kekuatan moral mulai dibenturkan dengan kekuatan senjata yang brutal. Apalagi jika penguasa berpikir, seperti rejim bengis di Suriah, dengan menggunakan logika barbar dan konyol: "Bahwa membunuh sejuta orang adalah syah adanya, demi membela kehidupan 250 juta warga".

Darah akan mengalir kalau penguasa tidak tahu diri bahwa keberadaan dan legitimasinya sebenarnya sudah habis. Atau jika penguasa tetap merujuk angka2 perolehan suaranya pada Pemilu dan Pilpres yang katanya mayoritas dan lupa bahwa angka2 itu muncul karena rekayasa mereka sendiri. Korban juga akan jatuh jika Dewan Perwakilan Rakyat, Majelis Permusyawaratan Rakyat, dan Partai-partai politik buta dan tuli serta tidak cepat2 bersidang untuk menggunakan jalan konstitusional memakzulkan presiden.

Jelas pulalah kini bahwa pada galibnya revolusi apapun dan dimana pun, hanya inginkan jalan damai demi perubahan yang mendasar. Tetapi harus dicamkan bahwa ketika kekuatan dalam revolusi itu sudah mencerminkan kemauan mayoritas rakyat, kami berharap penguasa melalui mata hatinya mengakui dengan rendah hati tuntutan rakyat itu. Kembalikan mandat rakyat dan mundur dengan terhormat atau lakukanlah lengser keprabon sebagai jalan terbaik.

Karena pada dasarnya revolusi adalah jalan terakhir dan klimak dari segala cara yang telah dilakukan rakyat untuk mengkritik pemerintah, untuk memperingatkan penguasa, dan setelah memberi saran2 konstruktif tapi tidak digubris. Revolusi adalah puncak kesabaran setelah rakyat menempuh jalan hukum dan konstitusional, tetapi semua sistem ternyata telah disabot dan dimanipulasi oleh rejim berkuasa. Revolusi adalah cara meretas masa, setelah semua cara pengawasan dan pengendalian lembaga runtuh, dan para mafia serta gerombolan2 konspirator itu tetap menjalankan kejahatan dan operasi kriminalnya.

Dan ketika revolusi mulai digulirkan, itu berarti pertanda Indonesia dalam keadaan bahaya. Itu isyarat bahwa gerakan rakyat tidak mungkin dihentikan lagi dengan dengan cara apapun. Tidak ada lagi yang bisa disuap, tidak ada lagi yang bisa diiming2i jabatan, dan tidak ada lagi yang bisa dibohongi. Revolusi adalah bagian dari usaha satu kaum untuk mengubah nasibnya sendiri, seperti dikatakan: "Innallaha la yughoyyiru mabiquomin hatta yughoyirru mabianfusihim" (Sungguh Allah tidak mengubah nasib suatu kaum kecuali mereka sendiri yang mengubah nasibnya)***













Senin, 08 Agustus 2011

KEHANCURAN NEGERI INI SUDAH SEMPURNA

Saudara-saudara,

Kemarin sore kita telah mendengarkan suara Nazaruddin dari tempat pelariannya. Pengakuan Nazaruddin yang disiarkan oleh Metro TV itu benar-benar membuat darah kita terkesiap. Bulu kuduk kita merinding, dan pada saat itu pula sendi-sendi kaki kita melemah ,lunglai.

Apa yang ditunggu-tunggu dari Nazaruddin, yang selama ini dituduh sebagai penyuap dan selama ini pula di "kuyo-kuyo", datang sudah. Bisul itu pecah sudah, penuh nanah, berbau busuk yang benar-benar menusuk. Kalau apa yang ia katakan benar, maka inilah kiamat kecil bagi negeri ini.

Betapa mirisnya kita dengar anak-anak muda yang telah nekad dan berani melakukan korupsi triliunan rupiah. Betapa beraninya mereka mengumbar suap dan melakukan persekongkolan jahat demi kekuasaan. Mereka telah pula berani menginjak sendi-sendi hukum dan konsitusi negara bak kesetanan.

Negeri yang dengan susah payah didirikan dengan peluh, darah, dan air mata; hanya dalam tujuh tahun SBY berkuasa; harapan tentang negeri yang "gemah ripah loh jinawi" sirna dalam sekejap. Ini bukanlah sebuah negara, inilah komunitas masyarakat purba, yang hidup tanpa aturan, etika , dan norma-norma. Inilah yang disebut sebagai pertarungan bebas "survival of the fittest", kata Darwin.

Kita seolah-olah tidak pernah hidup dalam peradaban yang tinggi pada masa lalu. Karena apa yang kita lihat saat ini tidak lebih dari komunitas manusia-manusia pada awal evolusi, yakni komunitas sub-human, mahluk yang berada di bawah derajat manusia. Kita kini berada dalam proses dehumanisasi yang mengerikan. Kita bukan melakukan "character building atau "nation building", kita melakukan demoralisasi dan degradasi terhadap karakter bangsa kita.

Seolah tidak ada lagi agama, tidak ada lagi etika dan tata-krama, tidak ada hukum dan konsitusi, tidak ada panutan dan keteladanan. Kemanakah para Kiyai, para guru, para penegak hukum, dan para pemimpin "sing ngarso ing tulodo". Saya kira mereka telah berkerja keras dan merasa menjalankan fitrahnya. Tetapi astaga-naga, bukti-bukti, fakta-fakta, dan kenyataan menunjukkan hal-hal sebaliknya yang justru bertentangan dengan harapan mereka.

Kalau orang jujur sudah dikejar-kejar, diusir, dan disakiti; maka saya katakan inilah sebenarnya masyarakat jahiliyah yang dihadapi para rasul dan nabi. Kalau kebenaran diingkari, keahlian dipecundangi, kebaikan dikhianati, dan keadilan bisa dibeli; katakanlah bahwa sendi-sendi masyarakat kita telah mati-suri. Ini artinya hanya satu langkah lagi saudara-saudara, mungkin juga satu jengkal saja saudara-saudara, kita akan berada dalam suatu situasi chaos dan anarkhi.

Negeri ini terus membusuk dan ketata-negaraannya makin terpuruk, bahkan sejak Orde Baru sampai Rejim Reformasi berkuasa saat ini. Demokrasi adalah hasil transaksi dan jual-beli. Pemimpin terpilih karena mengelabuhi dan membayar pada pemilihnya. Apakah itu anggota DPR, anggota DPRD, Gubernur, Bupati, bahkan presiden.

Kecurangan dalam Pemilu dengan gamblang dipaparkan di hadapan kita, dengan memalsukan daftar pemilih tetap, dengan memanipulasi sistem teknologi informasi, dengan merencanakan nama-nama yang akan dimenangkan, dengan memalsukan surat-surat pengesahan, curi-mencuri suara, serta jual-beli suara di lapangan. Saudara-saudara kalau begitu pemimpin kita sebenarnya bukanlah pemimpin, mereka adalah orang-orang dagang, mereka tak lebih dari pialang-pialang kekuasaan.

Saudara-saudara, kalau begitu apa yang diharapkan dari mereka? Mereka sudah tidak perlu bekerja untuk kita, mewakili kepentingan kita, apalagi setiap kali kita hujat dan kita gugat. Mereka sudah merasa kekuasaan dan jabatan milik mereka sendiri, karena mereka mendapatkannya secara tidak gratis dan dukungan dari masyarakat sudah mereka beli secara kontan.

Inilah awal dari kehancuran sistem politik demokrasi kita, inilah produk dari demokrasi transaksi itu, yang sifatnya kasih uang habis perkara. Mereka tidak merasa ada urusan lagi dengan rakyat, semua hak-hak warga negara telah mereka berangus dan bungkus, karena mereka telah lunas membelinya. Dari sinilah malapetaka itu hadir, para pemimpin tak ubahnya para bandit yang bisa berbuat tanpa kontrol dan kendali rakyat.

Bandit-bandit itu merampok APBN atau uang rakyat, tanpa ijin, tanpa bisa diawasi, besarnya sesuka mereka, siapapun yang mecoba menghadang akan mereka suap atau mereka singkirkan. Mereka merampok dengan terang-terangan, mengatur sejak dalam rencana, menentukan berapa besar anggarannya, dan mengatur bagaimana mereka dapat memenangkan lelangnya. Dengan cara inilah korupsi terjadi dan berhasil dengan menyuap semua pihak yang terlibat dari kalangan birokrasi.

Setelah para bandit itu berhasil merampok APBN melalui korupsi, berhasil menimbun uang dan harta mereka, mereka akan meneguhkan kekuasaan dan jabatan mereka. Oleh karenanya saudara-saudara, terjadilah siklus yang terus berulang. Saya katakan siklus itu adalah siklus atau daur setan, yakni uang-kekuasaan-uang-kekuasaan. Siapa-siapa yang punya uang akan mudah mendapatkan kekuasaan dan sebaliknya siapa-siapa punya kekuasaan akan terus mencari uang untuk melanjutkannya.

Itulah saudara-saudara yang disebut gejala plutokrasi. Pemerintahan yang diatur oleh uang, oleh komplotan atau konspirasi orang-orang berduit. Kevin Phillips, seorang penulis dan ahli strategi politik Amerika, mengatakan satu pemerintahan yang telah ditegakkan oleh ramuan antara uang dan kekuasaan. Mau menjadi pemimpin harus menggunakan uang untuk membayar pemilih, mau jadi deputi gubernur Bank Indonesia harus menyuap anggota DPR, mau menjadi atau menjatuhkan Ketua Umum parpol harus pakai uang, mau memenangkan perkara bayar polisi hakim, jaksa, dan hakim untuk menang, mau naik pangkat harus menyogok dengan uang.

Sudah seperti inikah wajah negeri kita. Sampai kapan ini akan terus berlangsung? Sanggupkah rakyat dan orang-orang kritis melawan para plutokratis yaitu orang-orang yang bercokol di puncak kekuasaan yang mengatur kekuasaannya dengan uang. Yang mendikte kebenaran dengan uang dan yang menjajah martabat dan derajat kemanusiaan kita dengan uang.

Tanpa sadar sebagian masyarakat telah menjadi antek-antek uang, tanpa sadar pula sebagian golongan itu telah menjadi budak-budak mereka. Mereka inilah yang seluruh naluri, hati, dan akal sehat mereka telah mereka kendalikan dengan uang sebagai instrumennya. Mereka seperti robot-robot yang tenaga listriknya adalah uang dari para bandit, para koruptor, para perampok uang rakyat dan APBN.

Mari saudara-saudara kita bangkit bersama, kita masih menyimpan kekuatan yang maha dahsyat unutk melawan kekuatan uang mereka. Kita masih punya kekuatan kemanusiaan atau human capital, kita punya akal dan kecerdasan, punya kekuatan kreatif untuk menciptakan gagasan perlawanan atas penindasan terhadap hak-hak kita, juga kekuatan jiwa dan raga yang teguh dan kuat. James S Coleman katakan human capital itu adalah dasar dan bisa kita gubah menjadi kekuatan sosial atau social capital yakni solidaritas bersama, kekuatan masif rakyat, organisasi front kolektif, kepemimpinan, yang kita ujudkan dalam bentuk senjata bagi kaum tertindas dan lemah, yakni kekuatan rakyat atau people power. Itulah modal dasar revolusi kita.