Senin, 08 Agustus 2011

KEHANCURAN NEGERI INI SUDAH SEMPURNA

Saudara-saudara,

Kemarin sore kita telah mendengarkan suara Nazaruddin dari tempat pelariannya. Pengakuan Nazaruddin yang disiarkan oleh Metro TV itu benar-benar membuat darah kita terkesiap. Bulu kuduk kita merinding, dan pada saat itu pula sendi-sendi kaki kita melemah ,lunglai.

Apa yang ditunggu-tunggu dari Nazaruddin, yang selama ini dituduh sebagai penyuap dan selama ini pula di "kuyo-kuyo", datang sudah. Bisul itu pecah sudah, penuh nanah, berbau busuk yang benar-benar menusuk. Kalau apa yang ia katakan benar, maka inilah kiamat kecil bagi negeri ini.

Betapa mirisnya kita dengar anak-anak muda yang telah nekad dan berani melakukan korupsi triliunan rupiah. Betapa beraninya mereka mengumbar suap dan melakukan persekongkolan jahat demi kekuasaan. Mereka telah pula berani menginjak sendi-sendi hukum dan konsitusi negara bak kesetanan.

Negeri yang dengan susah payah didirikan dengan peluh, darah, dan air mata; hanya dalam tujuh tahun SBY berkuasa; harapan tentang negeri yang "gemah ripah loh jinawi" sirna dalam sekejap. Ini bukanlah sebuah negara, inilah komunitas masyarakat purba, yang hidup tanpa aturan, etika , dan norma-norma. Inilah yang disebut sebagai pertarungan bebas "survival of the fittest", kata Darwin.

Kita seolah-olah tidak pernah hidup dalam peradaban yang tinggi pada masa lalu. Karena apa yang kita lihat saat ini tidak lebih dari komunitas manusia-manusia pada awal evolusi, yakni komunitas sub-human, mahluk yang berada di bawah derajat manusia. Kita kini berada dalam proses dehumanisasi yang mengerikan. Kita bukan melakukan "character building atau "nation building", kita melakukan demoralisasi dan degradasi terhadap karakter bangsa kita.

Seolah tidak ada lagi agama, tidak ada lagi etika dan tata-krama, tidak ada hukum dan konsitusi, tidak ada panutan dan keteladanan. Kemanakah para Kiyai, para guru, para penegak hukum, dan para pemimpin "sing ngarso ing tulodo". Saya kira mereka telah berkerja keras dan merasa menjalankan fitrahnya. Tetapi astaga-naga, bukti-bukti, fakta-fakta, dan kenyataan menunjukkan hal-hal sebaliknya yang justru bertentangan dengan harapan mereka.

Kalau orang jujur sudah dikejar-kejar, diusir, dan disakiti; maka saya katakan inilah sebenarnya masyarakat jahiliyah yang dihadapi para rasul dan nabi. Kalau kebenaran diingkari, keahlian dipecundangi, kebaikan dikhianati, dan keadilan bisa dibeli; katakanlah bahwa sendi-sendi masyarakat kita telah mati-suri. Ini artinya hanya satu langkah lagi saudara-saudara, mungkin juga satu jengkal saja saudara-saudara, kita akan berada dalam suatu situasi chaos dan anarkhi.

Negeri ini terus membusuk dan ketata-negaraannya makin terpuruk, bahkan sejak Orde Baru sampai Rejim Reformasi berkuasa saat ini. Demokrasi adalah hasil transaksi dan jual-beli. Pemimpin terpilih karena mengelabuhi dan membayar pada pemilihnya. Apakah itu anggota DPR, anggota DPRD, Gubernur, Bupati, bahkan presiden.

Kecurangan dalam Pemilu dengan gamblang dipaparkan di hadapan kita, dengan memalsukan daftar pemilih tetap, dengan memanipulasi sistem teknologi informasi, dengan merencanakan nama-nama yang akan dimenangkan, dengan memalsukan surat-surat pengesahan, curi-mencuri suara, serta jual-beli suara di lapangan. Saudara-saudara kalau begitu pemimpin kita sebenarnya bukanlah pemimpin, mereka adalah orang-orang dagang, mereka tak lebih dari pialang-pialang kekuasaan.

Saudara-saudara, kalau begitu apa yang diharapkan dari mereka? Mereka sudah tidak perlu bekerja untuk kita, mewakili kepentingan kita, apalagi setiap kali kita hujat dan kita gugat. Mereka sudah merasa kekuasaan dan jabatan milik mereka sendiri, karena mereka mendapatkannya secara tidak gratis dan dukungan dari masyarakat sudah mereka beli secara kontan.

Inilah awal dari kehancuran sistem politik demokrasi kita, inilah produk dari demokrasi transaksi itu, yang sifatnya kasih uang habis perkara. Mereka tidak merasa ada urusan lagi dengan rakyat, semua hak-hak warga negara telah mereka berangus dan bungkus, karena mereka telah lunas membelinya. Dari sinilah malapetaka itu hadir, para pemimpin tak ubahnya para bandit yang bisa berbuat tanpa kontrol dan kendali rakyat.

Bandit-bandit itu merampok APBN atau uang rakyat, tanpa ijin, tanpa bisa diawasi, besarnya sesuka mereka, siapapun yang mecoba menghadang akan mereka suap atau mereka singkirkan. Mereka merampok dengan terang-terangan, mengatur sejak dalam rencana, menentukan berapa besar anggarannya, dan mengatur bagaimana mereka dapat memenangkan lelangnya. Dengan cara inilah korupsi terjadi dan berhasil dengan menyuap semua pihak yang terlibat dari kalangan birokrasi.

Setelah para bandit itu berhasil merampok APBN melalui korupsi, berhasil menimbun uang dan harta mereka, mereka akan meneguhkan kekuasaan dan jabatan mereka. Oleh karenanya saudara-saudara, terjadilah siklus yang terus berulang. Saya katakan siklus itu adalah siklus atau daur setan, yakni uang-kekuasaan-uang-kekuasaan. Siapa-siapa yang punya uang akan mudah mendapatkan kekuasaan dan sebaliknya siapa-siapa punya kekuasaan akan terus mencari uang untuk melanjutkannya.

Itulah saudara-saudara yang disebut gejala plutokrasi. Pemerintahan yang diatur oleh uang, oleh komplotan atau konspirasi orang-orang berduit. Kevin Phillips, seorang penulis dan ahli strategi politik Amerika, mengatakan satu pemerintahan yang telah ditegakkan oleh ramuan antara uang dan kekuasaan. Mau menjadi pemimpin harus menggunakan uang untuk membayar pemilih, mau jadi deputi gubernur Bank Indonesia harus menyuap anggota DPR, mau menjadi atau menjatuhkan Ketua Umum parpol harus pakai uang, mau memenangkan perkara bayar polisi hakim, jaksa, dan hakim untuk menang, mau naik pangkat harus menyogok dengan uang.

Sudah seperti inikah wajah negeri kita. Sampai kapan ini akan terus berlangsung? Sanggupkah rakyat dan orang-orang kritis melawan para plutokratis yaitu orang-orang yang bercokol di puncak kekuasaan yang mengatur kekuasaannya dengan uang. Yang mendikte kebenaran dengan uang dan yang menjajah martabat dan derajat kemanusiaan kita dengan uang.

Tanpa sadar sebagian masyarakat telah menjadi antek-antek uang, tanpa sadar pula sebagian golongan itu telah menjadi budak-budak mereka. Mereka inilah yang seluruh naluri, hati, dan akal sehat mereka telah mereka kendalikan dengan uang sebagai instrumennya. Mereka seperti robot-robot yang tenaga listriknya adalah uang dari para bandit, para koruptor, para perampok uang rakyat dan APBN.

Mari saudara-saudara kita bangkit bersama, kita masih menyimpan kekuatan yang maha dahsyat unutk melawan kekuatan uang mereka. Kita masih punya kekuatan kemanusiaan atau human capital, kita punya akal dan kecerdasan, punya kekuatan kreatif untuk menciptakan gagasan perlawanan atas penindasan terhadap hak-hak kita, juga kekuatan jiwa dan raga yang teguh dan kuat. James S Coleman katakan human capital itu adalah dasar dan bisa kita gubah menjadi kekuatan sosial atau social capital yakni solidaritas bersama, kekuatan masif rakyat, organisasi front kolektif, kepemimpinan, yang kita ujudkan dalam bentuk senjata bagi kaum tertindas dan lemah, yakni kekuatan rakyat atau people power. Itulah modal dasar revolusi kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar