Ribut-ribut teroris, kekerasan agama, dan penggelaran bom secara kolosal yang terjadi akhir-akhir ini hanya memperkuat sinyalemen bahwa SBY benar-benar telah menyalah-gunakan kekuasaan seperti dibeberkan oleh The Age dan The Sydney Morning Herald. Jika Suharto masih menerapkan operasi intelijen (militer) di samping strategi politiknya, tetapi SBY menerapkan operasi intelijen sebagai strategi politiknya.
Sinyal bahwa SBY menggunakan operasi intelijen untuk mendapatkan kekuasaan justru keluar dari mulutnya sendiri. Ia mengatakan bahwa keberhasilannya dalam PEMILU dan PILPRES 2009/2010 adalah berkat diterapkannya operasi senyap atau revolusi senyap (Quiet Revolution).
Kebodohan SBY adalah ia tidak tahu bahwa perbuatan ini sebenarnya merupakan bentuk pelanggaran berat atas Hukum Kemanusiaan Internasional (International Humanitarian Law) yang diakui semua bangsa, yakni penggunaan operasi intelijen yang melanggar kesucian manusia. Operasi senyap itu menurut kabel diplomatik Kedutaan Besar Amerika, seperti yang dikutip Wikileaks, masih berjalan dengan menguntit tokoh-tokoh politik kunci di Indonesia.
Operasi senyap yang dikomandoi SBY memiliki beberapa tim dengan nama sandi, seperti operasi intelijen militer, yakni Tim Echo, Tim Delta, Tim Bravo, Tim Foxtrot, Tim India, Tim Romeo, dan Tim Sekoci. Sukses yang diraih tim-tim ini disebabkan keterlibatan para petinggi militer seperti Marsekal TNI (Purn) Djoko Suyanto (Tim Echo), Irvan Edison (Tim Sekoci), Mayjen TNI (Purn) Abikusno (Tim Delta), Mayjen TNI Sardan Marbun (Tim Romeo), dan banyak lagi mantan perwira tinggi militer.
Celakanya apa yang dilakukan oleh SBY ini sama dengan langkah-langkah aktif operasi intelijen perang yang dilakukan oleh aparat intelijen Soviet di masa lalu (Cheka, OGPU, NKVD, dan KGB), khususnya untuk mempengaruhi dan menciptakan jalannya peristiwa-peristiwa politik publik. Seolah tanpa disadari, semua berjalan begitu saja dengan diselimuti istilah-istilah baru seperti pemasaran sosial atau pemasaran politik (politic and social marketing), pewarnaan informasi publik terus dilakukan pihak SBY.
Karena itu tatkala upaya untuk mengendalikan informasi publik di media massa ini gagal walau telah diguyur dengan iklan-iklan pemerintah, Sekretaris Kabinet Dipo Alam mencak-mencak membabi buta. Sebagai satu operasi intelijen, yang dilakukan bisa berupa disinformasi, propaganda, kebohongan publik, pemalsuan dokumen; serta bisa saja diperluas dengan peristiwa pembunuhan, penetrasi, dan kekerasan.
Mudah-mudahan melalui tulisan ini akan terjawab berbagai kejanggalan peristiwa-peristiwa sosial akhir-akhir ini seperti peristiwa teror yang muncul setiap gunjingan negatif terhadap SBY terangkat. Operasi intelijen seperti ini ada batasnya, karena selalu memiliki titik lemah yang akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar