Selasa, 09 Agustus 2011

REVOLUSI ADALAH CARA BIJAK MENGUBAH KEADAAN

Sampai hari ini, masih saja ada orang2 yang takut2 dengan revolusi. Saudara-saudara, mereka sesungguhnya adalah juga orang2 yang tidak mensyukuri revolusi, sebagai satu nikmat dan rahmat Tuhan. Mereka adalah yang tidak ingat, tidak tahu, atau tidak mau tahu bahwa negara2 yang makmur, negara2 yang moderen, negara2 yang tertata saat ini adalah negara2 yang lahir dari rahim revolusi. Kenapa? Karena merupakan buah dari gerakan massal dan kolosal rakyat yang ingin menentukan nasibnya sendiri, membuat konstitusi sendiri, dan mendisain sistem demokrasinya sendiri.

Mengapa harus sendiri? Karena dengan membidani dan menangani sendiri segala sistem yang akan dipakai, maka sistem itu akan memihak kepada dirinya, kepada kepentingannya, dan kepada cita2 yang benar2 diharapkan oleh rakyat. Inilah inti dari semangat negara dari, oleh, dan untuk rakyat. Rakyat sudah tidak sudi jika para penindas dan penjajah itu setiap kali mengklaim mendapat mandat dari rakyat, tetapi kebijakan2nya justru anti terhadap rakyat. Setiap kali di negara2 korup para penguasa berpidato bahwa program2nya dibuat demi kepentingan rakyat, tetapi saya hakul yakin bahwa itu semua hanya akan melanggengkan kepentingan dari para penindas sendiri.

Dari sinilah gagasan2 bahwa perubahan harus bersifat merakyat dan populer berangkat dan berawal. Perubahan yang diwujudkan tanpa partisipasi rakyat dan bersumber dari kekuatan rakyat, maka perubahan itu sebenarnya hanya hadiah dari penguasa atau pihak ketiga. Tentu perubahan itu bukanlah yang diimpikan oleh rakyat dan meragukan apakah perubahan itu dapat menjawab tuntutan rakyat. Itulah yang kita keluhkan saat ini bahwa reformasi tahun 1997/1998 yang pernah kita lakukan adalah reformasi tanpa perubahan apa2, malahan yang terjadi adalah deformasi dan bangkitnya musuh2 lama kita kembali.

Menjebol sistem lama dan rejim lama dari akar2nya dan membangun sistem baru dan rejim baru dengan landasan baru, itulah yang disebut revolusi. Karena menjebol adalah tindakan yang relatif singkat dan relatif cepat, maka perubahan yang cepat juga merupakan salah satu ciri dari revolusi itu sendiri. Perubahan dari akar2nya harus dilakukan ketika semua sistem sudah tidak lagi menguntungkan rakyat, karena sistem yang ada sedikit demi sedikit telah dimanipulasi dan telah diplintir untuk kepentingan para penguasa.

Oleh karena itu, revolusi harus mengorganisir rakyat banyak, harus memfasilitasi rakyat bergerak beramai2, dan harus berbondong2; sehingga revolusi benar2 merupakan manifestasi daya dan upaya rakyat sendiri. Revolusi bukan rekayasa para elit yang akhirnya perubahan hanya menjadi permainan dari kepentingan elit sendiri. Dengan bersama2, berramai2, dan berbondong2, itu berarti juga kita mengumpulkan kekuatan rakyat, bergotong-royong, dan bersinergi.

Itulah kekuatan sejati yang dimiliki rakyat, dan dengan kekuatan akumulatif itu, rakyat tidak dilihat sebelah mata, tidak dipandang remeh oleh penguasa2 yang keras kepala, dan kita bisa menunjukkan bahwa rakyat serius dan tidak main2. Itu berarti juga rakyat sudah siap menanggung segala resiko , jika lawan tidak mundur dan terus bercokol di singhasananya. Mengapa, karena perubahan yang total, perubahan yang fundamental, dan menjamin harapan2 utuh rakyat mensyaratkan rejim lama mundur atau dimundurkan.

Tapi saudara-saudara, dalam sejarah politik, dalam sejarah kekuasaan para tiran, dan tradisi dari penguasa2 yang arogan; penguasa2 itu tidak mungkin legowo dan ikhlas begitu saja meninggalkan kursi kekuasaannya. Penguasa itu pasti dan hampir pasti ingin menguji apakah tuntutan rakyat serius. Mereka pasti akan menyelidiki terlebih dahulu apakah gerakan perubahan ini benar2 mewakili kepentingan rakyat. Bahkan mereka akan mencoba2 melakukan kekerasan untuk melihat sejauh mana daya-rekat dan kesetiakawanan dalam barisan rakyat itu.

Celakanya saudara-saudara, celakanya para begundal di belakang penguasa tertinggi itu selalu membisiki dan menggombali pemimpinnya serta mengatakan bahwa yang bergerak hanya segelintir orang. Lebih celaka lagi para begundal itu juga mengatakan bahwa rakyat sebenarnya terprovokasi oleh para provokator. Mereka juga terus memanas-manasi penguasa yang sudah berada di ujung tanduk itu bahwa popularitasnya tetap tinggi dan juga masih banyak rakyat yang setia kepada sang penguasa.

Inilah pangkal masalahnya, inilah pokok persoalannya, dan inilah sebab-musabab; mengapa revolusi yang suci dan damai itu terkadang berlangsung tidak sesuai harapan. Apalagi jika penguasa mulai mengerahkan polisi, preman2 asuhannya, intel2, dan tentara untuk melakukan aksi kekerasan terhadap gerakan revolusioner rakyat. Kekerasan akan berlangsung lama dan akan jatuh korban, jika angkatan bersenjata yang dibiayai dari uang rakyat itu mulai menembak dan membunuh putera2 bangsa yang terbaik.

Jadi saudara-saudara sudah jelaslah adanya bahwa darah akan mengalir jika kekuatan rakyat dihadapkan dengan kekuatan yang tidak seimbang yakni kekuatan senjata. Korban juga akan jatuh jika kekuatan moral mulai dibenturkan dengan kekuatan senjata yang brutal. Apalagi jika penguasa berpikir, seperti rejim bengis di Suriah, dengan menggunakan logika barbar dan konyol: "Bahwa membunuh sejuta orang adalah syah adanya, demi membela kehidupan 250 juta warga".

Darah akan mengalir kalau penguasa tidak tahu diri bahwa keberadaan dan legitimasinya sebenarnya sudah habis. Atau jika penguasa tetap merujuk angka2 perolehan suaranya pada Pemilu dan Pilpres yang katanya mayoritas dan lupa bahwa angka2 itu muncul karena rekayasa mereka sendiri. Korban juga akan jatuh jika Dewan Perwakilan Rakyat, Majelis Permusyawaratan Rakyat, dan Partai-partai politik buta dan tuli serta tidak cepat2 bersidang untuk menggunakan jalan konstitusional memakzulkan presiden.

Jelas pulalah kini bahwa pada galibnya revolusi apapun dan dimana pun, hanya inginkan jalan damai demi perubahan yang mendasar. Tetapi harus dicamkan bahwa ketika kekuatan dalam revolusi itu sudah mencerminkan kemauan mayoritas rakyat, kami berharap penguasa melalui mata hatinya mengakui dengan rendah hati tuntutan rakyat itu. Kembalikan mandat rakyat dan mundur dengan terhormat atau lakukanlah lengser keprabon sebagai jalan terbaik.

Karena pada dasarnya revolusi adalah jalan terakhir dan klimak dari segala cara yang telah dilakukan rakyat untuk mengkritik pemerintah, untuk memperingatkan penguasa, dan setelah memberi saran2 konstruktif tapi tidak digubris. Revolusi adalah puncak kesabaran setelah rakyat menempuh jalan hukum dan konstitusional, tetapi semua sistem ternyata telah disabot dan dimanipulasi oleh rejim berkuasa. Revolusi adalah cara meretas masa, setelah semua cara pengawasan dan pengendalian lembaga runtuh, dan para mafia serta gerombolan2 konspirator itu tetap menjalankan kejahatan dan operasi kriminalnya.

Dan ketika revolusi mulai digulirkan, itu berarti pertanda Indonesia dalam keadaan bahaya. Itu isyarat bahwa gerakan rakyat tidak mungkin dihentikan lagi dengan dengan cara apapun. Tidak ada lagi yang bisa disuap, tidak ada lagi yang bisa diiming2i jabatan, dan tidak ada lagi yang bisa dibohongi. Revolusi adalah bagian dari usaha satu kaum untuk mengubah nasibnya sendiri, seperti dikatakan: "Innallaha la yughoyyiru mabiquomin hatta yughoyirru mabianfusihim" (Sungguh Allah tidak mengubah nasib suatu kaum kecuali mereka sendiri yang mengubah nasibnya)***













Tidak ada komentar:

Posting Komentar